Pagi itu, di tengah keramaian kota, terlihat gadis
kecil berumuran 6 tahunan, berambut panjang dengan wajah oval duduk termenung. Renza
namanya, dia putri tunggal dari keluarga ternama di kotanya. Renza anak yang
periang, manis dan cerdas. Namun, tidak seperti biasanya dia merenung duduk di
kursi di sebuah taman. Suara tangisannya yang lirih mengundang keingintahuan
seorang anak laki-laki seumuran gadis tersebut untuk mendekat dan duduk di
sebelahnya.
“Hmm, nama kamu siapa? Kenalkan aku Tian. Mengapa
menangis?”
Tangisan itu berhenti sejenak dan Renzapun menoleh
ke arah anak laki-laki tersebut dengan berlumuran air mata.
“Kucing kesayanganku hilang saat aku bermain
dengannya. Sekarang aku tidak tahu mau mencari kemana lagi”
“Kucingmu pergi ke arah mana? Tenang saja, aku akan
membantumu. Jangan menangis lagi!”
“Benarkah kau akan membantuku?” Bibir tipisnya mulai
tersenyum.
“Ayo kita cari sama-sama.”
Mereka berduapun kesana kemari berusaha mencari
kucing yang hilang itu. Mencoba ke semak-semak, area permainan dan taman
hasilnya tidak ada. Wajah kebingungan mulai tampak. Renza itu berhenti dan
tertunduk kembali.
“Mungkin Chima sudah pergi jauh meninggalkan taman
ini dan meninggalkanku juga.” Gadis kecil itu menangis lagi. Seperti sudah
kehilangan semangat untuk mencari kucing kesayangannya.
“O.. jadi kucing kamu bernama Chima. Hei, kamu tidak
boleh menyerah. Mungkin kucing kamu juga berusaha untuk mencari kamu. Kamu
harus semangat! ”
Gadis kecil itu menerutkan keningnya dan menatap
anak laki-laki tersebut dengan keheranan.
“Mengapa kamu semangat untuk membantu mencari
kucingku? Kamu kan belum kenal sama aku?”
“Aku tidak mau saja kalau ada seorang gadis manis
seperti kamu menangis. Maka itu aku akan membuat kamu tersenyum lagi. Nama kamu
siapa?”
“Terima kasih ya, kamu sudah baik sama aku. Hmm,
namaku Re…” Belum selesai menyebutkan namanya tiba-tiba ada seseorang yang memanggil
Renza, ternyata ibunya Renza.
“Dek, kamu darimana saja? Ibu cari kamu keliling
taman ternyata kamu di sini. Mana Chima?”
“Chima hilang Bu, tadi aku sudah mencarinya
kemana-kemana dengan temanku tapi Chima belum ketemu.”Renza menangis dan
memeluk ibunya.
“Sudahlah, besuk kita cari lagi ya sama Ayah. Kalau
perlu nanti Ayah suruh pasang di koran-koran. Sekarang kita pulang dulu, kita
harus berkemas-kemas untuk segera berangkat. Mari Nak?”
“Sebentar Bu, aku mau bilang terima kasih sama
temanku dulu. Hmm, Tian terima kasih ya kamu sudah mau menolong aku. Kalau kamu
nanti melihat kucingku, rawatlah dia baik-baik. Suatu saat aku akan
menjemputnya di sini.”
“OK, kalau aku menemukannya aku akan rawat dan
memberikannya kepadamu. Aku tunggu kau di sini.”
“Sampai jumpa!”
Mereka saling melambaikan tangan dan berpisah. Tian
berharap akan bertemu gadis kecil itu kembali. Namun, Tian kecewa karena dia
tidak tahu nama gadis kecil tersebut. Hanya nama Re yang diketahuinya. Tianpun
pulang ke rumah naik sepeda mininya.
Di tengah perjalanan, Tian menabrak seekor kucing
yang sedang menyebrang. Tian berhenti dan menghampiri kucing yang ternyata
terluka pada bagian kakinya. Tian langsung membawanya pulang untuk diobati.
Sesampai di rumah.
“Tian kamu bawa apa sayang?” Tanya Mama Tian
“Ini Ma, tadi Tian tidak sengaja menabrak kucing di
jalan. Jadi Tian rawat kucing ini . Boleh ya Ma?”
“Hmm, tapi kamu harus janji, kamu harus rawat kucing
itu baik-baik. OK!”
“Siap Mama bos!”
“Ya sudah, kamu mandi sana.”
“Iya, Ma.”
Tian langsung
membersihkan luka kucing tersebut. Tidak sengaja, dia melihat kalung yang
dikenakanya terdapat nama dari kucing tersebut. Tertulis nama “My Chima”.
Kemudian Tian berpikir sejenak.
“My Chima? Apakah ini kucing kesayangan gadis kecil
itu? Mungkin saja benar, kalau begitu aku rawat saja kucing ini. Siapa tahu aku
dapat bertemu dengan gadis kecil itu lagi.”
Semenjak itu, Tian merawat seekor kucing dengan
kasih sayangnya. Berharap dia akan bertemu dengan gadis kecil itu. Seiring
berjalannya waktu, kucing itu tumbuh besar dan mulai akrab dengan Tian.
Tian sudah menginjak umur 16 tahun. Kini dia tumbuh
sebagai remaja yang aktif dan berhobi merawat hewan. Namun, di balik
keaktifannya di berbagai kegiatan, Tian divonis mengidap penyakit kaker otak. Dia
sering mencurahkan isi hatinya kepada Chima. Bahkan dokter sudah memberikan
perkiraan kapan Tian akan meninggal. Tian tidak percaya dengan apa yang
dikatakan dokter, dia hanya berharap sebelum dia mati dia akan bertemu dengan
gadis kecil yang ia temui di taman 10 tahun yang lalu. Karena dia masih punya
janji dengan gadis kecil itu untuk mengembalikan kucing kesayangannya. Oleh
karena itu, terkadang Tian bersikap jahil dan membuat ulah karena dia merasa
kuat dan tidak mau dikasihani gara-gara penyakit yang dideritanya
Di sekolah, di kelas Tian terdapat siswa baru
pindahan dari Bogor. Gadis itu memperkenalkan dirinya.
“Hai, teman-teman gimana kabarnya? Namaku Renza. Aku
pindahan dari SMA Negeri di Bogor. Mohon kerjasamanya.”
Renza dipersilakan duduk di sebelah Anjani, teman
sekelas Tian. Aksi Tian untuk membuat ulah tertuju pada anak baru, tidak lain
adalah Renza. Setiap hari Renza selalu diganggunya. Seperti mengempeskan ban
sepeda Renza, mengunci Renza di kamar mandi. Sejak saat itu, Renza sangat
membenci Tian. Ulahnya yang keterlaluan kadang membuat Renza menangis dan
menjadi tidak tahan sekolah di sana. Dia melaporkannya kepada ibunya.
“Bu, aku ingin pindah sekolah saja.”
“Lho.. Memangnya kenapa Dek? Kan baru 2 minggu kamu
sekolah di sana? Ada yang jahat sama kamu? Atau apa?”
“Iya, Bu. Ada seorang laki-laki yang selalu
menjahiliku sampai aku menangis. Aku tidak tahan Bu.”
“Kalau begitu nanti Ibu bilang sama Ayah supaya
mendaftarkan kamu ke sekolah yang lebih bagus.”
“Terima kasih Bu!”(muka Renza kembali murung)
“Ada apa lagi Dek?”
“Tiba-tiba aku kangen sama teman Renza yang dulu
pernah bantuin Renza mencari Chima. Sekarang gimana ya kabarnya? Apa Chima ada
padanya?”
“Sudahlah, pasti dia baik-baik saja. Kalau masalah
Chima, mudah-mudahan Chima juga dirawat olehnya.”
“Aku juga berharap seperti itu Bu.”
Bersambung...
#apa yang terjadi selanjutnya??tunggu kisahnya .haha
By : Dwiik Ciprut